Pertemuan agama-agama dalam era global adalah salah satu fenomena yang terjadi dengan dahsyat. Dunia Barat telah menjadi tempat subur dakwah Islam, kaum Muslimin dari Afrika, Timur Tengah, dan Asia telah menjadi imigran di masyarakat Barat.Mereka berbaur dan bersatu demi hidup dan mengubah kehidupan politik, ekonomi, dan pendidikan anak cucunya ke arah yang lebih baik.
Namun, belakangan ini, kenyamanan dunia global terusik oleh sebagian kecil kelompok jahil yang menebar kebencian, permusuhan dan teror. Sebagian aksi teror tersebut juga mengatasnamakan agama dan pembelaan terhadap nasib orang-orang tertindas.
Padahal aksi teror mereka juga bersifat menindas orang-orang tak bersalah dan menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Sehingga citra Islam secara agama damai dan pembawa rahmat menjadi luntur dan kabur.
Dunia Islam saat ini juga masih tertinggal dari umat lain dalam pendidikan dan ekonomi. Kedua faktor utama ini menyebabkan kaum muslimin merasa Barat khususnya penguasanya, tidak adil dalam politik terhadap umat Islam, apalagi kalau terfokus pada masalah konflik Palestina dan Israel.
Masalah konflik berlarut-larut Palestina dan Israel inilah asal mulanya yang melahirkan radikalisme masa kini. Keadaan sosial, politik, dan ekonomi orang-orang Palestina adalah lahan subur timbulnya “dendam-dendam politik” yang lebih luas, yaitu Arab dengan Israel.
Konflik Arab dengan Israel ini meluas menjadi konflik Islam dengan Yahudi. Memang Islam dengan Arab tidak bisa dipisahkan dalam sejarah dunia Islam, tetapi dapat secara cermat dan jernih dipisahkan. Untuk kepentingan analisa strategis.
Kultur Arab tentunya tidak identik dengan kultur Islam, walaupun semua mengetahui hadis Nabi Muhammad saw bahwa tidak ada kelebihan Arab atas non-Arab, kecuali dengan takwa.
Dunia Islam kini masih tertinggal dalam ekonomi dan pen¬didikan, tanpa kecuali negara di kawasan Timur Tengah (negara-negara Arab) yang masih tenggelam dalam konflik yang berkepanjangan.
Mereka masih larut dalam “Keberagaman Arab“ yang emosional. Pertemuan-pertemuan ilmiah bukan politik, yang biasa sekali berbeda pendapat, mudah sekali menjadi arena politik kalau melibatkan saudara-saudara tua dari Timur Tengah.
Kultur emosional dalam pertemuan ilmiah dan dakwah ini, kurang kita dapati di regional Asia Tenggara, yang penuh dengan kemaje¬mukan dan toleransi dapat memainkan “peran ummatan wasathan” (umat moderat) saat-saat transisi dunia Islam ini.
Islam yang telah mengglobal sudah tidak pantas lagi menjadi “emosional” dalam era demokrasi dan kontri¬busi. Sudah tiba saatnya dalam era globalisasi ini kaum Muslim memberi kontribusi ke¬manusiaan dan kesalehan hidup dalam me¬nuntun jalannya nilai-nilai hidup manusia modern.
Revolusi Islam Iran
Munculnya gerakan keagamaan yang ber¬sifat radikal merupakan fenomena penting yang turut mewarnai citra Islam kontemporer. Masyarakat dunia belum bisa melupakan peristiwa Revolusi Islam Iran pada 1979 yang berhasil menampilkan kalangan mullah ke-panggung kekuasaan.
Dampak dari peristiwa itu sangat mendalam, karena kebanyakan pengamat tidak pernah meramalkan sebelumnya.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, dunia, khusunya Barat, di buat bingung karena rezim mullah begitu bersemangat untuk me¬lawan dan menyingkirkan mereka.
Hegemoni politik dan kultural Barat yang sebelumnya kuat mengakar dalam kehidupan sehari-hari ikut pula diganti dengan tatanan baru yang tidak didahului preseden historis.
Proses perbaikan itu begitu radikal, se¬hingga simbol yang terkait dengan budaya Barat tidak di beri ruang. Penguasa juga tidak segan-segan menjatuhkan hukuman terhadap mereka yang dicurigai sebagai agen dan kaki tangan Barat.
Keberhasilan Revolusi Islam Iran itu se¬makin memperkuat gerakan di negara-negara Iran dalam mengekspor revolusi, banyak peneliti menyatakan tidak terlalu sulit menemukan bukti keterlibatan negara ini sebelumnya dalam aksi-aksi radikal di negara-negara lain.
Secara diam-diam negara ini turut mensponsori gerakan keagamaan di Lebanon dan Palestina. Mereka juga tidak sungkan-sungkan men¬dukung gerakan serupa di Eropa, dengan misalnya, menjatuhkan hukuman mati kepada Salman Rusdie walaupun ia bukan warga negara Iran.
Sikap mereka yang agresif ini kemudian memunculkan banyak kekhawatiran dan curiga dari negara-negara lain, termasuk negara yang penduduknya mayoritas Muslim. Di Indonesia sendiri citra Iran lebih banyak dikaitkan dengan radikalisme agama sehingga Syi’ahisme belum bisa diterima secara terbuka.
Beberapa tokoh agama bahkan secara terang-terangan menya¬takan aliran Syi’ah sesat, sehingga kelompok yang menganut ajaran tersebut cenderung tidak terbuka.
Ragaman Radikalisme
Gerakan keagamaan yang menyertai ke¬kerasan itu hanya dilakukan oleh organisasi besar dan mapan. Kejadian-kejadian sporadis berupa pemboman pesawat sipil, barak tentara atau pasar, juga penculikan, kelompok-kelompok yang biasa disebut Barat sebagai “teroris”.
Menurut data masyarakat Barat, sebagian mereka didukung oleh negara-negara Libia dan Iran, dan sebagian lagi didukung oleh organisasi kecil yang militan. Di antara yang mendapat liputan luas itu adalah gerakan Hamas dan Jihad Islami, Palestina.
Keduanya secara terang-terangan menyatakan dirinya bertanggung jawab atas beberapa kejadian berdarah, termasuk pembunuhan terhadap Presiden Mesir Anwar Sadat.
Maraknya gerakan radikalisme dalam ma¬sya¬rakat Muslim secara langsung memperteguh citra lama tentang Islam bahwa pada dasarnya agama ini bersifat radikal dan intoleran. Kesan ini sulit dibantah, karena gelombang radikalis¬me Islam telah menjadi bagian penting dari rentetan kekisruhan politik sejak pertengahan abad ini.
Bahkan pada abad-abad sebelumnya patro-radikalisme Islam telah muncul se¬bagaimana yang ditunjukkan oleh gerakan politik–keagamaan.
Uraian di atas menunjukkan bahwa radikalisme dalam sejarah Islam memiliki agenda yang berbeda-beda. Secara ideal mereka memang berusaha untuk menerapkan ajaran-ajaran agama secara menyeluruh, tetapi metode dan pemahaman atas teks suci serta imperatif-imperatif yang dikandungnya saling berbeda.
Ketika Abdul Wahhab melancarkan puri¬tanisme, masyarakat Muslim saat itu belum menghadapi kekuatan Barat. Oleh karenanya sasaran yang dicanangkan oleh Abdul Wahhab terbatas pada komunitas internal Muslim.
Agendanya juga masih terbatas pada persoalan keagamaan, seperti bid’ah, khurafat dan takha¬yul. Praktis masalah kenegaraan dan sistem sosial-budaya belum banyak disentuh.(cmm)
sumber: FAJAR ONLINE, 15 Feb 2008
Komentar Terakhir